Perpustakaan sebagai lembaga komunikasi organisasi kampus (sebuah paradigma baru)

Oleh: Amrullah Hasbana, S. Ag, SS, MA

Perpustakaan tengah berbenah, itulah yang terjadi saat ini. Perpustakaan bukan perpustakaan yang kita kenal di era 70-80an yang lusuh, kumuh, dan tidak menarik. Perpustakaan sekarang tampak seperti mall buku, mall informasi dengan kapabilitas pelayanan yang tertata dan menarik. Perubahan yang terjadi di perpustakaan muncul akibat tuntutan zaman dan perubahan kebutuhan pengguna terhadap perpustakaan. Perpustakaan kini menjadi pusat informasi, dalam arti pusat pencarian ilmu yang sebenar-benarnya. Internet dan segala informasi dan akses di dalamnya kini ada di bawah kewenangan perpustakaan. E-Journal, E-Book, Website dan informasi-informasi internet lainnya yang tidak mungkin diakses secara terbuka, hanya bisa diketahui melalui akses perpustakaan. Perpustakaan sudah selayaknya mendefinisikan dirinya sendiri, ini perlu dilakukan agar perpustakaan tidak kembali kehilangan eksistensinya. Definisi baru dari perpustakaan ini harus dan perlu disosialisasi terutama pada organisasi/ institusi tempat perpustakaan bernaung. Di tingkat pendidikan tinggi, perpustakaan harus difahami bukan hanya sekedar pusat informasi, tetapi juga lembaga komunikasi organisasi. Sebab, tridharma perguruan tinggi, yang berkaitan dengan penelitian dan pengabdian masyarakat dapat diakses kembali oleh masyarakat hanya melalui perpustakaan. Jika perpustakaan tidak melakukan redefinisi, maka perpustakaan hanya berubah secara fisik akibat tuntutan zaman, dan tidak berubah secara kewenangan dan cara pandang, karena paradigma yang ada di dalam pola pikir masyarakat akan tetap sama, dan tuntutan perubahan terhadap perpustakaan hanya dipandang hal yang lumrah, wajar dan tak berefek pada kebijakan serta kewenangan.

Kata Kunci: Perpustakaan, komunikasi organisasi, paradigma baru


A. Pendahuluan

Pernah mendengar adagium yang menyatakan “Perpustakaan adalah Jantung Institusi Pendidikan”, namun kemudian terheran-heran dengan kenyataan bahwa perpustakaan sama sekali tidak menjadi jantung dari institusi pendidikan. Jika anda pernah mendengar dan juga terheran-heran dengan kenyataan bahwa perpustakaan tidak diperlakukan sebagai jantung institusi pendidikan, maka anda perlu memahami latar belakang situasi tersebut serta membangun paradigma baru memperlakukan perpustakaan. Mengapa paradigma tersebut harus diubah dan dibangun kembali, ini tentu erat kaitannya dengan kondisi dan situasi zaman saat ini, yang serba kompetitif, yang serba informatif dan mengedepankan komunikasi publik.

Perpustakaan pun tidak bisa melepaskan diri dari perubahan zaman yang secara otomatis menempatkan perpustakaan sebagai jantung dalam arti penggerak organisasi pendidikan[1]. Peran-peran perpustakaan yang sebelumnya dimaknai sebagai jantung dalam arti penyedia bahan bacaan bagi civitas akademik dalam organisasi pendidikan. Itu sebabnya, meski adagium perpustakaan sebagai jantung institusi pendidikan sudah dislogankan sejak lama, peran dan fungsinya tak ubah sebagai pensuplai bahan bacaan yang kadang-kadang tidak dipantau apakah suplai bahan bacaan sesuai dengan kebutuhan civitas akademik yang ada.

Analogi perpustakaan dengan jantung ini lah yang menjadi titik dasar peran dan fungsi perpustakaan yang perlu dianalisis, dipetakan dan dikembangkan kembali. Tujuan utama dari pemetaan ini untuk mengetahui ruang lingkup kerja perpustakaan yang di era modern ini tidak bisa hanya ditugaskan sebagai penyuplai bahan pustaka. Perpustakaan dituntut memainkan peran informasi karya ilmiah seluruh civitas akademik-nya, juga mediator antara kebutuhan informasi civitas akademik yang ada di dalam institusi pendidikan dengan informasi-informasi di luar institusi pendidikan yang hak pengerjaannya terletak di perpustakaan.

B. Perpustakaan dalam paradigma lama

Jika anda dilahirkan jauh sebelum era millenium, dipastikan anda bersepakat dengan apa yang saya gambarkan tentang perpustakaan. Perpustakaan adalah gudang buku-buku berdebu, yang sepi, dengan penjaga yang kaku, otoriter dan cenderung tampak membosankan. Perpustakaan meski diisi oleh banyak buku yang menarik dengan muatan ilmu yang luar biasa, tidak menjadi rujukan bagi para civitas akademik pendidikan. Tidak karena pelayanan yang diberikan para penjaga perpus cenderung kaku dan membosankan, namun lebih karena proses menemukan satu buku saja di perpustakaan membutuhkan waktu yang lumayan panjang dan ruwet. Alih-alih berminat membaca, minat mencari buku pun turut hilang.

Akibat kondisi dan situasi tersebut, secara otomatis perpustakaan pun kehilangan maknanya, sehingga tidak perlu menjadi sesuatu yang mengherankan jika adagium perpustakaan jantung institusi pendidikan pun tidak tampak dalam realitas sebenarnya. Fakta dan realitas yang terjadi di perpustakaan turut menciptakan image perpustakaan di mata publik, dan yang cukup “merusak” juga menjadi paradigma berpikir para pengelola perpustakaan yang menganggap bahwa sikap kaku, otoriter, membosankan adalah keharusan sikap yang ditunjukkan petugas perpustakaan[2].

Perubahan mulai terjadi ketika era internet datang. Keberadaan internet dan kewajiban perpustakaan menyediakan layanan internet memberikan angin segar untuk perubahan manajemen di perpustakaan[3]. Internet tampak seperti penyelamat perpustakaan dari masa-masa suram-nya yang kaku, sepi dan membosankan. Di masa-masa awal internet datang ke berbagai organisasi pendidikan, perpustakaan ditunjuk sebagai penyedia layanan. Civitas akademik kemudian berbondong-bondong mendatangi perpustakaan demi akses internet. Lalu bagaimana para penjaga perpustakaan yang sebelumnya bersikap kaku dan otoriter menghadapi situasi baru itu?

John Broades Watson dalam teori behaviorisme atau teori perubahan perilaku menyebutkan bahwa manusia sebagai produk lingkungan segala perilakunya sebagian besar dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Ketika lingkungan berubah, secara tidak disadari perilaku manusia pun berubah, beradaptasi dengan lingkungannya[4]. Ini yang terjadi pada pelaku perpustakaan atau pustakawan. Keberadaan internet turut merubah cara bersikap para pustakawan ini, sekaligus merubah orientasi perpustakaan. Di tataran ini, perpustakaan secara berangsur-angsur masuk ke paradigma baru dengan perilaku baru dan cara kerja baru.

Ketika perpustakaan tidak didefinisikan sekedar ruangan tempat penyimpanan buku, namun juga merambah pada film, slide dan informasi terbuka, maka perpustakaan pun mengalami perluasan makna. Perpustakaan kini disebut sebagai sumber informasi. Adapun petugas perpustakaan menjadi petugas yang mengorganisir, memanage setiap sumber informasi, sehingga pelanggan perpustakaan dalam pemenuhan informasi dapat dengan mudah menemukannya.

C. Paradigma Baru; Peran Baru

Memasuki era modern, perpustakaan didefinisikan bukan sebagai lembaga yang menyediakan layanan, melainkan sebagai sistem layanan yang terdiri dari berbagai unit kerja dan bagian yang terintegrasi[5]. Peran dan fungsi perpustakaan yang bukan sekedar penyedia, melainkan sumber informasi memaksa perpustakaan untuk menjalankan pengolahan, penyusunan dan pelayanan koleksi dalam konteks sistem yang terintegrasi dan terupdate secara terbuka.

Akses pengguna perpustakaan kini menuntut lebih dari sekedar penyedia jasa, dan pustakawan lagi-lagi dipaksa bekerja cepat dalam menghadapi tuntutan zaman. Pustakawan bukan pekerjaan klerikal dan administratif semata namun lebih dari itu, adalah promotor ilmu pengetahuan dan pembelajaran[6]. Pustakawan hakikatnya adalah pendidik, yang memfasilitasi pengguna untuk menjadi manusia terdidik. Hal ini menunjukkan bahwa pustakawan dalam paradigma baru memuat tugas-tugas professional yang tidak hanya bersifat administratif. Pustakawan adalah pengendali informasi yang disatu sisi memerankan tugasnya sebagai pendidik, di sisi lain menjalankan fungsinya sebagai penata administratif kelembagaan[7].

Peran dan fungsi perpustakaan antara paradigma lama dan baru, terdeskripsikan kurang lebih sebagai berikut:

Paradigma Lama Paradigma Baru
Fungsi Penyimpanan; menyimpan koleksi berupa buku dan dokumen terbitan lain Fungsi Penyimpanan; menyimpan koleksi baik berbentuk buku atau informasi dalam bentuk soft file
Fungsi Informasi; menyediakan info buku terbaru atau terbitan terbaru yang ada di perpustakaan Fungsi Informasi; menyediakan akses terbuka untuk mengakses koleksi-koleksi perpustakaan lewat internet
Fungsi Pendidikan; menyediakan sarana untuk belajar baik di lingkungan formal maupun non formal Fungsi Pendidikan; menyediakan sarana untuk belajar secara formal dan non formal dengan fasilitas akses internet dan computer
Fungsi Rekreasi; menyediakan rekreasi kultural dengan membaca dan mengakses sumber informasi hiburan seperti novel, cerita rakyat, puisi dsb Fungsi Rekreasi; menyediakan rekreasi informatif dengan mengakses video, film dan akses e-book, e-journal dsb
Fungsi Kultural; mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya melalui pameran, pertunjukan, bedah buku, seminar dsb Fungsi Kultural; mendidik dan mengembangkan apresiasi budaya melalui pameran, pertunjukan, bedah buku, bedah film, seminar dsb
  Fungsi Promotif; mengembangkan informasi melalui pengembangan website perpustakaan

Perubahan fungsi perpustakaan berimplikasi pada perubahan tugas, pokok dan fungsi pustakawan, yang diantaranya;

Paradigma Lama Paradigma Baru
Fungsi Penyimpanan; Pustakawan mengolah koleksi ke dalam input data komputer dan menyusunnya dalam katalog manual Fungsi Penyimpanan; Pustakawan mengolah koleksi ke dalam input data online yang bisa diakses oleh siapapun, yang secara otomatis menghasilkan katalog online
Fungsi Informasi; Pustakawan membuat daftar koleksi terbaru, untuk menarik minat pengguna perpustakaan Fungsi Informasi; Pustakawan tidak membuat daftar koleksi terbaru, karena sistem secara otomatis akan melakukan list buku-buku terbaru yang masuk ke dalam perpustakaan, kecuali buku-buku best seller yang diinformasikan di dalam website
Fungsi Pendidikan; Pustakawan menyediakan ruangan atas pemesanan tenaga pendidik yang akan menggunakan ruangan Fungsi Pendidikan; Pustakawan menyediakan akses komputer yang dipantau keseluruhan aksesnya dari server yang dimanage dan dikelola langsung oleh pustakawan
Fungsi Rekreasi; Pustakawan menyediakan koleksi kultural di sudut tertentu untuk memudahkan pengguna menemukannya Fungsi Rekreasi; Pustakawan mengadakan kerjasama (MOU) dengan penyedia jasa terkait video, film, e-book dan e-journal, dsb.
Fungsi Kultural; Pustakawan menyediakan ruangan untuk kegiatan pameran, pertunjukan, bedah buku, seminar, dsb. Fungsi Kultural; Pustakawan sebagai penyedia jasa kegiatan pameran, pertunjukan, bedah buku dan seminar, melalui kegiatan promotif dalam informasi website
  Fungsi Promotif; Pustakawan menjadi manager informasi, komunikator antara kegiatan institusi dengan pengguna perpustakaan

Perpustakaan sebagaimana yang disampaikan Daoed Joesoef dapat dikatakan memenuhi unsur disiplin ilmu, jika dapat ditinjau dari tiga dimensi, yaitu produk, proses dan masyarakat sebagai pengguna[8]. Di era modern ketiga dimensi tersebut dapat dikatakan tengah menunjukkan eksistensinya, sehingga adagium lama bahwa perpustakaan jantung institusi bisa terimplementasi.

D. Komunikasi Organisasi oleh Humas di Perguruan Tinggi

Kegiatan komunikasi merupakan bagian dari perpindahan informasi, yang berkembang bersamaan dengan kebutuhan interaksi manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, komunikasi tidak sekedar interaksi, melainkan alat untuk mengenal, memecahkan masalah atau menjalin hubungan baik dengan sesamanya. Bersamaan dengan perkembangan zaman itu pula, alat-alat komunikasi tidak sebatas pada ucapan lisan melainkan pada tulisan, dan lebih dari itu pada teknologi seperti pengiriman pesan melalui internet.

Beragam prosedur komunikasi yang berkembang membuat komunikasi bukan hanya penting secara individual, melainkan juga penting bagi institusi-institusi organisasi. Dari sudut pandang organisasi, komunikasi adalah interaksi dari suatu kesatuan social yang terdiri dari dua orang atau lebih yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama[9]. Pemahaman terhadap komunikasi organisasi tidak dapat dilepaskan dari wilayah-wilayah public relation yang ada di dalam organisasi itu sendiri.

Institusi pendidikan setingkat Perguruan Tinggi misalnya, komunikasi dijalin dalam bentuk implementasi tridharma; informasi tentang pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat. Keseluruhan informasi institusi pendidikan dikomunikasikan oleh banyak bidang yang seringkali disebut dengan “Public Relation” atau Kehumasan. Namun, apakah Public Relation telah menjadi corong komunikasi organisasi dalam institusi pendidikan terutama dalam mengkomunikasikan tridharma perguruan tinggi?

Ike Devi Sulistyaningtyas dalam tulisannya Peran Strategies Public Relations di Perguruan Tinggi, menyebutkan bahwa peran yang dilakukan oleh Public Relations (baca; humas) berkaitan dengan pencitraan (image) korporat. Adapun pencitraan korporat seperti perguruan tinggi diikat dalam visi pendidikan nasional yang termaktub pada Undang-undang No. 20/2003 yang menyebutkan sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa, untuk memberdayakan semua warga Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman[10].

Jika mengacu pada visi tersebut, maka perguruan tinggi dalam pencitraan dirinya mengalami dilema antara perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan dan perguruan tinggi sebagai lembaga bisnis. Perguruan tinggi perlu memainkan pencitraan diri sebagai agent of education and change sekaligus enterpreneural university, dan humas di perguruan tinggi tidak bisa secara otomatis membangun dua pencitraan tersebut secara bersamaan. Ini terkait dengan dua peran tersebut, dibangun oleh stakeholder perguruan tinggi yang berbeda yang tidak terkait secara langsung satu dengan lainnya.

Melihat pada kompleksitas stakeholders yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi, fungsi Humas di perguruan tinggi harus diawali dari pemahaman model kerja. Model kerja di perguruan tinggi didasarkan pada kebijakan atau program yang hendak dikembangkan. Setiap kebijakan yang terkait dengan satu stakeholder bisa jadi tidak dipandang penting oleh stakeholder lainnya, begitu pun sebaliknya. Namun, setiap kebijakan yang ditetapkan di Perguruan Tinggi punya implikasi luas yang perlu dikomunikasikan, karena kebijakan apapun di dalam perguruan tinggi menjadi citra (image) manajemen diri dan kualitas diri perguruan tinggi. Dualisme fungsi perguruan tinggi ini menempatkan Humas dalam posisi fasilitator komunikasi (communication facilitator).

Dozier dan Broom[11], menyebutkan empat kategori peran humas, yaitu:

  1. Penasehat ahli; menjadi pemberi solusi dari masalah hubungan antara organisasi (institusi) dengan publiknya.
  2. Fasilitator komunikasi; bertindak sebagai komunikator atau mediator untuk membantu pihak manajemen dalam hal untuk mendengar apa yang diinginkan dan diharapkan oleh publiknya. Di pihak lain, juga mampu menjelaskan kembali keinginan, kebijakan dan harapan organisasi kepada publiknya, sehingga dengan komunikasi timbal balik tersebut tercipta saling pengertian, kepercayaan, saling mendukung dan toleransi antara dua belah pihak.
  3. Fasilitator pemecahan masalah; berfungsi sebagai penasehat manajemen dalam mengambil tindakan eksekusi (keputusan) dalam mengatasi persoalan atau krisis yang dihadapi secara rasional dan profesional.
  4. Teknisi komunikasi; menjadi mediator antar bagian baik arus ataupun media komunikasi yang dipergunakan di tingkat pimpinan dengan bawahan atau sebaliknya.

Peran kehumasan di Perguruan Tinggi tampaknya akan didominasi oleh fasilitator komunikasi, yang menjadi komunikator sekaligus mediator seluruh stakeholder perguruan tinggi. Ini tidak berarti peran kehumasan yang lain tidak berfungsi, sebaliknya peran humas lainnya menjadi pendukung kuat bagi terbentuknya fungsi fasilitator komunikasi.

Dalam upaya fasilitasinya, humas perguruan tinggi menyediakan wadah komunikasi berupa domain website, yang didalamnya setiap kebijakan dan tujuan organisasi diinformasikan kepada publik. Domain itu menjadi wadah penghubung antara stakeholder perguruan tinggi sehingga komunikasi organisasi khususnya Perguruan Tinggi

E. Produk Perpustakaan bagian dari Komunikasi Organisasi Perguruan Tinggi

Dampak yang bisa dirasakan dari pesatnya laju perkembangan technology, trade dan transportation adalah fenomena globalisasi yang semakin hari semakin intens tak dapat dihindari. Untuk perpustakaan dan perguruan tinggi, dampak dari fenomena globalisasi menjadi ajang kompetensi sekaligus kompetisi organisasi. Perguruan tinggi merupakan salah satu institusi non finansial yang bukan hanya berfungsi sebagai tempat menimba ilmu pengetahuan dan menghasilkan orang-orang yang berilmu pengetahuan saja, tetapi juga merupakan aset yang dapat memberikan manfaat untuk kepentingan masyarakat.

Perpustakaan perguruan tinggi diselenggarakan dengan tujuan yang jika dijabarkan sebagai berikut;

  1. Sebagai penunjang pendidikan dan pengajaran maka Perpustakaan bertujuan untuk mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyajikan dan menyebarluaskan informasi untuk stakeholder dalam hal ini yang menerima langsung adalah mahasiswa dan dosen sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  2. Sebagai penunjang penelitian maka Perpustakaan mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyajikan dan menyebarluaskan informasi bagi peneliti baik intern institusi atau ekstern institusi.
  3. Sebagai penunjang pengabdian kepada masyarakat maka Perpustakaan melakukan kegiatan dengan mengumpulkan, mengolah, menyimpan, menyajikan dan menyebarluaskan informasi bagi masyarakat.

Berdasarkan pada tujuan perpustakaan tersebut, fungsi perpustakaan di perguruan tinggi jika dikembangkan lebih mendetail diantaranya;

  1. Studying center; pusat belajar untuk memberikan informasi sesuai dengan kebutuhan dalam jenjang pendidikan.
  2. Learning center; pusat pembelajaran (tidak hanya belajar) yang juga berfungsi sebagai sumber belajar.
  3. Research center; pusat informasi untuk mendapatkan bahan atau data atau informasi dalam pelaksanaan penelitian.
  4. Information resources center; pusat segala informasi, tempat penyebaran informasi yang berkaitan dengan pengembangan pendidikan, pengajaran dan penelitian.
  5. Preservation of knowledge; pusat pelestari ilmu pengetahuan sebagai wadah hasil karya atau tulisan bangsa yang disimpan baik sebagai koleksi deposit, local content atau grey literature.
  6. Dissemination of information center; pusat promosi informasi, perpustakaan adalah pengumpul, pengolah, pelayan dan pelestari informasi yang kemudian dipromosikan untuk menarik minat pengguna.
  7. Dissemination of knowledge center; pusat penyebaran pengetahuan baru, mengenalkan koleksi dari teori-teori terbaru yang berkembang di masyarakat.
  8. Quality improvement center; pusat peningkatan mutu universitas, perpustakaan yang lengkap dengan tata manajemen layanan menjadi kunci bagi pengembangan mutu perguruan tinggi.
  9. Information and knowledge sharing center; pusat pertukaran informasi dan pengetahuan, dengan menempatkan informasi atas pengetahuan yang diciptakan civitas (stakeholder) perguruan tinggi sebagai informasi terbuka melalui digital library.
  10. Cultural transformation; penggagas perubahan kultur dan sikap stakeholder dan atau civitas akademik perguruan tinggi, dengan melakukan perubahan paradigm dan perubahan konsep proses pendidikan dan pengajaran, semisal dari konvensional ke pendidikan berbasis IT.

10 pengembangan fungsi perpustakaan di atas jika berhasil dilakukan oleh setiap perpustakaan perguruan tinggi, maka secara otomatis perpustakaan menjadi komunikator dari organisasi perguruan tinggi. Misi utama Pendidikan Tinggi sebagaimana dalam Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014, ditugaskan untuk mencari., menemukan dan menjunjung tinggi kebenaran. Agar misi tersebut dapat diwujudkan, maka Perguruan Tinggi harus bebas dari pengaruh, tekanan dan kontaminasi apapun seperti kekuatan politik atau ekonomi. Ini dilakukan agar tridharma perguruan tinggi dapat dilaksanakan berdasarkan kebebasan akademik dan otonomi lingkungan.

Perpu No. 4 Tahun 2014 menguatkan UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang menyatakan bahwa ruang lingkup, kedalaman dan kombinasi pelaksanaan Tridharma dilakukan sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan setiap jenis dan program pendidikan tinggi. Ini menunjukkan betapa tridharma Pendidikan Tinggi bukan hanya sesuatu yang harus dan mutlak dikerjakan melainkan lebih dari itu menjadi ciri khas, karakter dari suatu lembaga Pendidikan Tinggi.

Adapun perpustakaan berfungsi menjadi penyebar informasi dari seluruh kegiatan pendidikan tinggi. Hasil olah penelitian civitas akademik di Pendidikan Tinggi keseluruhannya dilaporkan ke Perpustakaan. Begitu pula dengan laporan-laporan pengabdian masyarakat, perpustakaan ditugaskan untuk mengarsipkan sekaligus mengoleksi hasil laporan untuk kemudian diakses oleh stakeholder pendidikan tinggi dan juga masyarakat.

Meski secara definitif, perpustakaan lebih dikenal sebagai sumber belajar karena tugas pokok dan fungsinya yang menjadi penyedia koleksi buku, jurnal atau e-book, e-journal. Namun, secara aplikatif, perpustakaan hakikatnya adalah komunikator institusi, khususnya di Pendidikan Tinggi. Perpustakaan adalah wadah penyebar informasi dari seluruh hasil olah tridharma Pendidikan Tinggi.

F. E-Library; Website dan Pemanfaatan Komunikasi Organisasi

Ide tentang komunikasi organisasi dan perpustakaan sebagai bagian penting di dalamnya, belum banyak disebarluaskan dan belum dipandang sebagai hal yang perlu dilakukan. Padahal, dengan perubahan orientasi perpustakaan yang mengarah pada peran dan fungsinya sebagai penyedia informasi bukan lagi sebagai penyedia koleksi. Perpustakaan sudah sepatutnya ditempatkan dalam peran yang lebih luas.

Penempatan perpustakaan yang terus menerus sekedar penyedia koleksi, penampung buku dan pengadaan bahan ajar semata, akan mereduksi peran perpustakaan itu sendiri. Perpustakaan akan kembali kehilangan adagiumnya sebagai jantung institusi pendidikan. Perpustakaan akan kembali ke nilai lama yang membuat image perpustakaan itu sendiri rapuh.

Perpustakaan di era paradigma baru menganut konsep digitalisasi, dengan istilah perpustakaan yang berbeda-beda. Misalnya, e-library, perpus digital sampai dengan perpustakaan hybrid. Perubahan itu secara otomatis menjadikan internet sebagai alat untuk sumber informasi, dengan memanfaatkan world wide web atau website sebagai wadah informasi atau penyimpanan informasi. Perpustakaan bisa saja dalam beberapa tahun ke depan tidak memerlukan ruang fisik yang besar, melainkan memerlukan ruang digital yang lebih besar. Perpustakaan masa depan bisa saja hanya ada di dalam situs-situs web, perpustakaan yang hanya diakses melalui internet.

Kelebihan situs website yang menjadi dasar pilihan perpustakaan dalam mengelola sumber informasi diantaranya adalah konten yang mudah diubah, mendukung berbagai macam format media dan mudah diakses atau digunakan. Konten dalam situs website bisa mengandung teks, table, grafik, gambar, foto, audio dan video. Ini jauh lebih kompatibel dibandingkan keberadaan gedung dengan penyimpanan koleksi yang membutuhkan ruang fisik lebih besar, dengan proses pencarian koleksi yang lebih complicated. Sedangkan di dalam internet atau website, semua konten diubah menjadi elektronik (soft file), sehingga pencarian dapat dengan mudah dilakukan.

Perpustakaan hanya perlu membuat seluruh konten menjadi mudah diakses, beberapa teknik yang bisa dilakukan misalnya;

  1. Menentukan apa yang menjadi prioritas pengguna dan jadikan hal-hal tersebut sebagai prioritas di dalam website.
  2. Meletakkan elemen yang paling penting di bagian atas halaman sehingga pengguna dapat memilihnya sebelum keseluruhan halaman terunduh.
  3. Meletakkan contact details di bagian beranda atau dengan hanya menekan satu klik.
  4. Menyediakan fasilitas search sehingga pengguna dapat mencari apa yang mereka inginkan dengan lebih mudah.
  5. Navigasi harus jelas dan mudah sehingga pengguna dapat mencari informasi dan melakukan sesuatu dengan mudah.
  6. Menjadikan situs ramah terhadap pengguna dari berbagai lapisan, baik dalam maupun luar negeri.
  7. Menampilkan ilustrasi yang mencakup seni penggunaan warna, form, bentuk, tipografi, ilustrasi dan tata letak, sehingga dapat memberikan immediate impact terhadap pengguna.
  8. Dilakukan semacam survey atas koleksi-koleksi yang ada dan bersikap pro aktif terhadap kebutuhan pengguna, dengan memberikan ruang saran koleksi.
  9. Gunakan label dan pembagian area yang menarik dan intuitif.

Sejalan dengan keseluruhan peran dan fungsi website perpustakaan, keseluruhan tridharma perguruan tinggi pun turut disosialisasikan ke publik. Bagaimana pun juga organisasi yang berbasis pada teknologi informasi mempunyai kemampuan menghubungkan keperluan antara masyarakat dengan produk organisasi dalam hal ini adalah produk yang dikelola oleh perpustakaan.

Pengembangan fungsi website untuk perpustakaan diharapkan benar-benar mewakili fungsi dirinya sebagai jantung institusi pendidikan.

Sebagai jantung institusi, perpustakaan memiliki tugas yang sama dengan Public Relation dalam perguruan tinggi. Terutama ketika Public Relation di Perguruan Tinggi tidak memungkinkan untuk memberikan informasi detail tentang produk tridharma Perguruan Tinggi. Perpustakaan menjadi salah satu stakeholder yang perlu diberi ruang untuk bisa mendinamisasi diri, sehingga wajah perguruan tinggi kembali optimal.

G. Penutup

Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Government, yang menjelaskan tentang pertimbangan pemanfaatan Teknologi Informasi dapat dijadikan landasan bagi Perpustakaan di Perguruan Tinggi Negeri dalam membangun website yang dinamis dan dua arah. Dengan terwujudnya website yang bersifat dinamis, aliran informasi akan berjalan optimal, sehingga kepercayaan antara pengguna dengan perpustakaan meninggi, serta image atau citra perguruan tinggi membaik, dan penjaminan mutu yang selalu digagas oleh Pemerintah dapat berjalan maksimal.

Hal penting lainnya dalam memaksimalkan perubahan arah pengembangan perpustakaan, organisasi atau manajemen perguruan tinggi perlu melakukan sosialisasi penggunaan website perpustakaan, atau bekerjasama dengan Public Relation. Sebagai fasilitator komunikasi stakeholder, Public Relation bertugas mensosialisasikan seluruh produk perpustakaan ke public, selain dengan menjadikan website perpustakaan sebagai domain lanjutan dari website public relation, juga dilakukan dengan promosi perpustakaan. Kerjasama antar bagian dalam perguruan tinggi dalam membangun citra perguruan tinggi tersebut, akan memberikan ruang besar bagi public dalam mengenal, memahami dan mendalami perguruan tinggi tersebut, dan secara promotif akan meningkatkan daya jual dan daya saing organisasi perguruan tinggi.

END NOTE


[1] Sugeng Agus Priyono, Perpustakaan Atraktif, Jakarta, Grasindo, h. 1
[2] Darmono, Perpustakaan Sekolah, Jakarta, Grasindo, h. 30
[3] Laksamana Media, Sukses Meraih Beasiswa Luar Negeri melalui Internet, Yogyakarta, Mediakom, h. 49
[4] John Broadus Watson, Behaviorism, New Jersey, Transaction Publishers, h. 7
[5] Samuel T. Huang (ed.), Modern Library Technology and Reference Services, USA, The Haworth Press, h. 2
[6] SK Chaudhary, Modern Library Strategies, New Delhi, APH Publishing Corporation, h. 295
[7] Chaudhary…, h. 296
[8] Kadjat Hartojo, Harry Than Silalahi, Hadi Soesastro, Daoed Joesoef, Nalar dan Naluri: 70 Tahun Daoed Joesoef, h. 57
[9] Tommy Suprapto, Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi, Yogyakarta, MedPress, h. 109
[10] Ika Devi Sulistyaningtyas, Peran Strategies Public Relations di Perguruan Tinggi, diakses dari portalgaruda.com (http://download.portalgaruda.org/article.php?article=130731&val=5410&title=)
[11] Kutipan dalam Ika Devi Sulistyaningtyas, h. 138

DAFTAR PUSTAKA


Darmono (2007), Perpustakaan Sekolah, Jakarta: Grasindo
Hartojo, Kadjat, (et.al.),  (1996) ,  Nalar dan Naluri: 70 Tahun Daoed Joesoef,
Huang,  Samuel T. (ed.), (1993), Modern Library Technology and Reference Services, USA: The Haworth Press
Ika Devi Sulistyaningtyas, n(2013), Peran Strategies Public Relations di Perguruan Tinggi, diakses dari portalgaruda.com
Media, Laksamana,  Sukses Meraih Beasiswa Luar Negeri melalui Internet, Yogyakarta: Mediakom
Presiden Republik Indonesia, Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan E-Governmenthttp://www.apjii.or.id/v2/upload/ Regulasi/InPresRI3Th2003.pdf
Presiden Republik Indonesia, PP No.4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, http://www.kopertis12.or.id/2014/02/26/pp-no-4-tahun-2014-tentang-penyel...
Priyono, Sugeng Agus, ( 2006), Perpustakaan Atraktif, Jakarta: Grasindo
SK Chaudhary,  (2002)  Modern Library Strategies, New Delhi:  APH Publishing Corporation,
Suprapto,Tommy,  (2009), Pengantar Teori dan Manajemen Komunikasi, Yogyakarta:  MedPress
Watson, John Broadus, (2009), Behaviorism, New Jersey: Transaction Publishers